Kisah Renungan: Para Pelayan dan Rumah.

- 7/19/2019
advertise here
Kisah Renungan: Para Pelayan dan Rumah.

Perjalanan hidup manusia itu berbeda-beda dan beragam adanya. Tanpa kebesaran dan kehendakNya, manusia tidak akan pernah sampai pada impiannya. Seandainya manusia mau berpikir dan merenung apa arti sebuah kehidupan baginya, tentu manusia tidak akan pernah takut dan putus asa. Karena Allah SWT telah menyediakan segala keperluan manusia di dunia dengan segala fasilitasNya. Berikut tersaji kisah luar biasa yang mungkin dapat membuka mata hati kita tentang perjalanan hidup di dunia ini. Sebelum kita masuk ke cerita ini,gw mau mengucapkan terima kasih kepada Bang Rimung karena sudah mengijinkan gw untuk membagi kisah inspiratif ini kepada khalayak. Okey .. Selamat membaca.




Pada zaman dahulu,ada seorang bijaksana yang baik hati,yang memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang pergi,rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para pelayan.

Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering mereka lupa,mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang ulang yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan cara yang telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.

Konon,ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh,muncullah sekelompok pelayan,yang berpikir bahwa merekalah yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu terbatas pada dunia sehari hari saja, mereka merasa berada dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah mereka  ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu yang lain orang orang dating bermaksud membeli rumah itu, dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta, dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.

Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa persediaan untuk rumah senantiasa muncul “secara rahasia”, dan perbekalan itu tidak cocok dengan anggapan bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.

Petunjuk-petunjuk untuk mengurus rumah itu telah ditinggalkan dalam kamar si empunya rumah, dengan maksud agar bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi, kamar itu menjadi begitu keramat sehingga taka da seorangpun yang diperbolehkan memasukinya; dan kamar itu pun dianggap sebagai rahasia yang tak tertembus. Malahan, beberapa diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali tak ada, meskipun mereka melihat pintunya. Namun, tentang pintu itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan dinding belaka.


Begitulah keadaan para pelayan rumah tersebut, yang tidak mengambil alih rumah itu, tidak pula setia kepada petunjuk semula.

Jikalau kalian belum dapat memahami pesan inti yang ada dicerita ini, berikut adalah penjelasan makna di tiap paragraf. Selamat membaca..



Kisah Renungan: Para Pelayan dan Rumah.




 Pada zaman dahulu,ada seorang bijaksana yang baik hati,yang memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang pergi,rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para pelayan.
 Rumah adalah kehidupan di dunia, Pemilik rumah adalah Sang pemilik kehidupan, pelayan adalah diri kita.

   Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering mereka lupa,mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang ulang yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan cara yang telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.
Manusia sering lupa tujuannya hidup di dunia.

   Konon,ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh,muncullah sekelompok pelayan,yang berpikir bahwa merekalah yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu terbatas pada dunia sehari hari saja, mereka merasa berada dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah mereka ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu yang lain orang orang dating bermaksud membeli rumah itu, dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta, dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.
Manusia jauh dariNya karena tidak bersyukur dan menyibukkan (menjual) dirinya demi kenikmatan dunia.

    Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa persediaan untuk rumah senantiasa muncul “secara rahasia”, dan perbekalan itu tidak cocok dengan anggapan bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.
Walaupun manusia sering lupa kepadaNya, Allah tetap menjaga mereka dengan penuh kasih sayang.

    Petunjuk-petunjuk untuk mengurus rumah itu telah ditinggalkan dalam kamar si empunya rumah, dengan maksud agar bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi, kamar itu menjadi begitu keramat sehingga taka da seorangpun yang diperbolehkan memasukinya; dan kamar itu pun dianggap sebagai rahasia yang tak tertembus. Malahan, beberapa diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali tak ada, meskipun mereka melihat pintunya. Namun, tentang pintu itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan dinding belaka.
Kamar itu adalah hati.

    Begitulah keadaan para pelayan rumah tersebut, yang tidak mengambil alih rumah itu, tidak pula setia kepada petunjuk semula.
 Begitulah hidup manusia yang lupa akan perintahNya.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi terhadap mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab : Betul (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS.Al-Araf : 172)



Advertisement advertise here