Ayah Yang Bijaksana.

- 9/07/2019
advertise here


Terkisahlah pada suatu ketika ada seorang pemuda yang tertangkap perompak laut dan kemudian dijual sebagai budak. Pemuda ini kemudian dibeli oleh seorang saudagar kaya yg sangat menyukai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Dia membeli si pemuda ini karena dilihatnya wajahnya dan tatapan mata si Pemuda yang tidak seperti layaknya budak belian lainnya.

Pada suatu hari si tuan berkata pada si pemuda untuk menyembelih seekor kambing dan membawakan padanya bagian yg terburuk dari kambing itu.

Si pemuda melakukan hal tersebut dan kemudian membawakan hati dan lidah dari kambing yg disembelihnya. Si tuan kemudian menyuruhnya kembali untuk menyembelih kambing yg lainnya dan membawakan bagian yang terbaik dari kambing itu. Si pemuda melakukannya dan kemudian kembali mebawakan hati dan lidah dari kambing kedua yang disembelihnya.

Si tuan terkejut dan bertanya mengapa si pemuda membawakan hal yang sama sebagai bagian yang terbaik dan terburuk. Si pemuda menjawab bahwa orang yang baik maka hati dan lidahnya adalah bagian yang terbaik dari dirinya sedangkan orang yang tidak baik maka hati dan lidahnya adalah bagian yang terburukSi tuan tersenyum dan mengagumi kebijaksanaan dari si Pemuda. Si tuan memberikan kepercayaan sangat besar pada si pemuda ini dan membuatnya menjadi orang yg jg kaya.

Setelah beberapa belas tahun berlalu si pemuda telah tumbuh menjadi seorang yg dewasa dan kemudian memiliki seorang anak.

Suatu kali anaknya mengalami dilema dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia khawatir mengenai efek dari tindakannya. Ayahnya ingin mengajarinya sesuatu mengenai dunia, dia lalu mengajak anaknya pergi berkeliling desa dgn membawa seekor keledai.

Awalnya sang anak dibiarkan duduk diatas keledai itu dan kemudian si Ayah yang memegang tali kekang keledai dan menuntunnya. Ketika mereka melewati pasar didesa itu banyak orang mencibir dan mengatakan bahwa si anak tidak tahu diri bahwa seharusnya si ayahlah yang duduk diatas keledai dan si anak yg berjalan dan menutun keledainya.




Mereka kemudian pulang dan si ayah berkata bahwa besok mereka akan pergi lagi kepasar didesa itu namun kali ini si ayah yg akan duduk diatas keledai dan sianak yg berjalan. Keesokan harinya begitulah mereka pergi ke pasar didesa yang sama, namun kali ini ada lagi orang2x yg mencibir bahwa si ayah sungguh kejam, anaknya yg masih kecil disuruhnya berjalan dan menuntun keledai sementara dia enak2xan duduk.

Mereka kemudian kembali pulang dan si ayah berkata bahwa besok mereka akan pergi lagi kepasar namun kali ini mereka membawa keledai dan tidak akan mendudukinya, dua2xnya akan berjalan kaki sambil menutun keledai. Begitulah mereka keesokan harinya kembali ke pasar didesa itu dan keduanya berjalan kaki sambil menuntun keledai mereka. Lalu ada orang2x yang mencibir bahwa mereka berdua sungguh bodoh, memiliki keledai tp tidak ditunggangi malah dituntun sementara mereka berjalan.

Mereka kemudian kembali pulang dan berkata bahwa besok mereka akan pergi lagi kepasar namun kali ini kedua2xnya duduk diatas keledai mereka. Begitulah mereka pergi keesokan harinya kepasar didesa itu dan sekali lagi ada orang2x yang mencibir betapa kejamnya mereka menyiksa binatang keledai yang tampak kelelahan akibat ditunggangi ayah dan anak itu.

Setelah selesai kembalilah mereka kerumah. Setelah itu sang ayah berkata pada sianak, "Kau lihatlah apapun yg kita lakukan selalu saja ada yg mencibir mengenai tindakan kita. Ketahuilah anakku bahwa di dunia ini tidak ada orang yang akan selalu setuju dgn semua tindakan dan perkataanmu. Akan ada selalu yg mendukung dan tidak mendukung apapun yg engkau lakukan."

Sang anak kemudian bertanya, "Jika begitu maka apa yang terbaik yg aku harus lakukan ?"

Sang ayah menjawab, "Sesungguhnya tiada terlepas manusia dari penilaian2x manusia lainnya, maka orang yang berakal tiada mengambil pertimbangan dari hal tersebut melainkan hanya kepada kebenaran saja. Siapa yg mengenal kebenaran maka itulah yg akan ditimbangnya dalam setiap perlakuan dan perkataan."

Sang anak paham dgn apa yang harus dilakukannya dan tidak lagi memiliki dilema dalam mengambil keputusan.

Sang anak tumbuh dewasa dan kemudian mencoba mencari penghidupan, dia telah melakukan banyak hal namun tampaknya tidak memberikan hasil. Dia merasa berduka dan khawatr tidak mampu untuk menghidupi dirinya dan keluargannya kelak dan harus meminta2x pada keluarganya.

Sang Ayah berkata,"Wahai anakku, carilah rejeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiada lah orang yg menjadi fakir itu kalau mereka berusaha kecuali karena 3 hal yaitu tipis imannya, lemah akalnya dan hilang/buruk kepribadiannya. Lebih celaka dari 3 hal tersebut adalah mereka yang menganggap enteng/remeh ketiga hal ini."


Advertisement advertise here