Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1

- 1/24/2020

Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1


     Bumi Manusia merupakan salah satu karya sastra epic karangan penulis Pramoedya Anata Toer, alhamdulillah gw bisa diberi kesempatan untuk menikmati karya sastra epic ini. Gimana tidak disebut epic? karya ini sudah mengalami 32 kali cetakan dari tahun 1980 sampai juni 2019 kemarin dan sudah diterjemahkan dalam 30 bahasa yang berbeda dari seluruh dunia, belum penghargaan yang didapatkan dari tahun ke tahun sejak awal kemunculannya. Ini menjadi bukti nyata kalau karya Pram ini diterima khalayak dan diakui sebagai salah satu karya roman terbaik yang pernah dibuat, meskipun peredarannya sempat dilarang di Nusantara ini. Bumi Manusia merupakan salah satu dari roman empat serial Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dan pada artikel kali ini gw bakal bahas dari bagian pertama roman tersebut: Bumi Manusia.






Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1
Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1

  •  Sekilas tentang Bumi Manusia.

     Bumi Manusia merupakan salah satu dari roman empat serial Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Pembagian ini dapat diartikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa episode. Tetralogi Buru ditulis Pramoedya Ananta Toer waktu masih mendekam di kamp kerjapaksa tanpa proses hukum pengadilan di Pulau Buru, sebelum ditulis roman ini oleh Penulis diceritaulangkan pada teman temannya di P. Buru. Hal ini mengisyaratkan bahwa Penulisnya bukan hanya sekedar menulis dan membubungkan imajinasinya semata, tapi dengan penguasaan pedalaman cerita yang dimaksud, dengan penelusuran dokumen pergerakan awal abad 20.

     Pram memang tidak menceritakan sejarah sebagai mana terwarta secara objektif dan dingin yang selama ini diampuh oleh orang-orang sekolahan. Pram juga berbeda dengan penceritaan kesilaman yang lazim sebagaimana yang memberi jarak antara pembaca dan kurun sejarah yang tercerita. Dengan gayanya sendiri, Pram coba mengajak, bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional awal abad. Karena itu dengan gaya kepengarangan dan bahasa Pram yang khas, pembaca diseret untuk mengambil peran di antara tokoh-tokoh yang ditampilkannya.

     Hadirnya roman sejarah ini, bukan saja menjadi pengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini, karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.





Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1
Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1

  • Sinopsis.

     Bumi Manusia menceritakan kisah pergelutan di tanah kolonial awal abad ke-20 yang didominasi oleh tiga tokoh utama, yaitu Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies Mellema. Atau 4 barangkali? Darsam? Ahh .. barangkali Darsam punya tempat tersendiri di hati pembaca nantinya. Dalam alur cerita awal adalah periode kegelisahan dimana Tokoh sentral bernama Minke, adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa keeropaan yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Cerita perjuangan seorang Minke di dipadukan dengan kisah asmaranya dengan Annelies, gadis Indo berdarah Belanda, anak dari Nyai Ontosoroh.





Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1
Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1

  • Selayang Pandang dan Kutipan Menarik.

      Jauh sebelum film Bumi Manusia rilis di pertengahan tahun 2019 kemarin, jauh-jauh hari saya sudah berkenalan terlebih dahulu dengan versi bukunya. Baik versi buku atau film keduanya sama-sama menakjubkan menurut saya, tidak perlu berdebat versi mana yang lebih baik, baik dari prespektif tulisan, membaca itu memiliki independensi yang natural dan tinggi, ataupun dari sudut pandang karya visual, yakni tidak semua orang akan langsung paham dengan bahasa tulisan, ada orang-orang yang lebih mudah memahami sesuatu dengan bahasa visual. Semua orang punya perspektif tersendiri dalam menilai sesuatu, tidak ada opini yang salah dalam kacamata tertentu. Nikmati saja keduanya, toh itu adalah dua karya seni yang berbeda tapi masih satu payung. Tapi kalau dari perspektif gw, ya jelas langsung membaca novelnya, untuk rasa yang lebih otentik, uwekekeke.

     Lanjut ke bagian kutipan menarik, Buku Bumi Manusia ini memiliki banyak sekali nilai-nilai indah kehidupan yang dapat diambil dari cerita yang tersaji dalam buku ini. Berikut gw tulis kalimat-kalimat yang menurut gw layak untuk dibaca dan dikaji kembali keberadaannya:
     Tengah makan terniat olehku untuk menyampaikan keinginan Robert jadi pelaut, pulang ke Eropa. Pada waktu itu juga justru Nyai berkata:

     Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biar pun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia. Itu sebabnya tak habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini. Setiap hari bertambah saja. Aku sendiri tak banyak tahu tentang ini. Suatu kali pernah terbaca olehku tulisan yang kira-kira katanya begini: jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar pengelihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”

     Mama sama sekali sudah berhenti makan. Sendok berisi itu tetap tergantung dibawah dagunya. “Memang dalam sepuluh tahun belakangan ini lebih banyak cerita kubaca. Rasanya setiap buku bercerita tentang daya upaya seseorang untuk keluar atau mengatasi kesulitannya. Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.”


“Inilah putra Bunda, yang nakal,” sembahku parau.

“Kau sudah jantan. Kumismu sudah mulai melembayang . Kata orang kau sedang menyenangi seorang nyai kaya dan cantik,” dan sebelum sempat membantah ia telah meneruskan. “ Terserah padamu kalau memang kau suka dan dia suka. Kau sudah besar. Tentu kau berani memikul akibat dan tanggung jwabnya, tidak  lari seperti kriminil.” Ia menghela nafas dan membelai pipiku seperti bayi. “Gus, kabarnya sekolahmu maju. Syukur. Kadang heran juga aku bagaimana mungkin sekolahmu maju kalau kau sedang kalap dengan nyai itu. Atau mungkin kau ini memang sangat pandai? Ya-ya, begitulah lelaki,” suaranya terdengar murung, “semua lelaki memang kucing berlagak kelinci. Sebagai kelinci dimakannya semua daun, sebagai kucing dimakannya semua daging. Baiklah. Gus, sekolahmu maju, tetaplah maju.”

“Lelaki, Gus, soalnya makan, entah daun entah daging. Asal kau mengerti, Gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal  batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri.”


     Di malam yang sunyi dalam gedung kami yang besar dan lengang ini, apabila Papa tidak lelah, sukalah kami mendengarkan uraiannya tentang nasib bangsamu, yang pernah melahirkan beratus dan beribu pahlawan dan pemimpin dalam usaha menghalau penindasan Eropa. Seorang demi seorang dari mereka jatuh, kalah, tewas, menyerah, gila, mati dalam kehinaan, dilupakan dalam pembuangan. Tak seorangpun pernah memenangkan perang. Kami dengar kan dengan terharu, juga ikut menjadi jengkel dengan kelakuan para pembesarmu yang menjual konsessi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda kekroposan watak dan jiwanya.
     Pahlawan-pahlawanmu, dalam cerita Papa, bermunculan dari latar belakang penjualan konsessi, begitu terus-menerus, berabad-abad, dan tidak mengerti bahwa semua itu hanya ulangan dari yang sudah-sudah, semakin lama semakin kecil dan semakin kerdil. Dan begitulah, kata Papa, suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan.


“Apamu yang sakit, Ann?”

Ia tak menjawab, hanya memandang padaku jua. Kuletakkan kembali kepalanya ke bantal. Bentuk hidungnya yang indah itu menarik tanganku untuk membelainya. Ujung-ujung rambutnya berwarna agak coklat jagung, dan alisnya lebat subur sekan pernah dipupuk sebelum dilahirkan. Dan bulu matanya yang lengkung panjang membikin matanya seperti sepasang kejora bersinar di langit cerah, pada langit wajahnya yang lebih cerah.

“Bangun dan sadar, kau, Puspita Surabaya! Apa kau tak tahu? Iskandar Zulkarnain, Napoleon pun akan berlutut memohon kasihmu? Bahwa untuk menyentuh kulitmu mereka akan bersedia mengurbankan seluruh bangsa dan negerinya? Bangun, Puspitaku, karena kehidupan ini merugi tanpa kesaksianmu,” dan tanpa setahuku telah kukecup bibirnya dalam keadaan sepenuh sadarku.


     Dalam beberapa hari aku kejar ketinggalanku. Tak ada sesuatu kesulitan. Nenenda telah menanamkan kepercayaan pada diri: kau akan berhasil dalamsetiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan menjadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.


 “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian hanya hewan yang pandai.”


“Segera kuketahui: ini syarat pemecatan. Baik diri ini telah kupersiapkan untuk menghadapinya. Tak perlu gentar. Tak boleh meneruskan? Tidak apa. Sekolah akhirnya toh hanya pemenuh jadwal harian. Kalau bisa maju baik, tidak pun tak apa.


“Sama sekali tidak ada pendapat, Tuan.”
“Tidak mungkin. Coba katakan.” Aku diam saja.
“Kan sudah terlalu panas?  Lihat, Tuan Minke, dalam kehidupan ilmu tak ada kata malu. Orang tidak malu karena salah atau keliru. Kekeliruan dan kesalahan justru akan memperkuat kebenaran, jadi juga membantu penyelidikan.”


     Apa yang kurasakan sekarang ini, perasaan rendah begini, adalah nenek moyangku menamai nelangsa—perasaan sebatang kara di tengah sesamanya yang sudah menjadi lain daripada dirinya, di mana panas matari ditanggung semua orang, tapi panas hati ditanggung seorang diri. Jalan yang terbuka hanya ke hati mereka yang senasib, senilai, seikatan, sepenanggungan.
     Ya, Allah, juga kenelangsaan bisa menghasilkan sesuatu tentang ummatMu sendiri. Kau jugalah yang perintahkan ummat untuk berbangsa-bangsa dan berbiak. Hubungan laki-laki dan perempuan yang terjadi karena perbedaan kemampuan social dan ekonomi bisa kau ridlai. Mengapa hubungan sukarela tanpa perbedaan social ekonomi begini, didasari saling tanggung jawab begini tak Kau ridlai, hanya karena belum menurut aturanMu? Dan semua itu sudah Kau biarkan terjadi, melahirkan golongan Indo yang begitu berkuasa atas mereka yang lahir dengan keridlaanMu?
     Aku berpaling kepadaMu, karena orang orang yang dekat denganMu pu  tidak pernah menjawab. Kaulah yang menjawab sekarang. Aku hanya menulis tentang yang kuketahui dan yang kuanggap kuketahui. Bukankah segala ilmu dan pengetahuan juga berasal tidak lain dari Kau sendiri?


“Kau menyukai anak Nyai Ontosoroh. Terserah. Kataku: Jangan lari dari persoalanmu sendiri, karena itu adalah hakmu sebagai jantan. Rebut Bunga kecantikan, karena mereka disediakan untuk dia yang jantan. Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan, yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukan hanya pelacur.”


“Duduk di kursi begini aku teringat pada Bunda. Betapa indah sekiranya semua ini ia saksikan: putra kebanggaan akan menerima ijasah lulus H.B.S. Wanita mulia itu tidak hadir. Dan aku rasai adanya kekosongan dalam kebesaran dan keriangan ini."


Di malam hari Bunda berbisik padaku:
“Gus, baik benar peruntunganmu, dapatkan istri secantik itu. Di jaman leluhurmu, perempuan seindah itu bisa terbitkan perang Bharatayuddha.”


     Baik Annelies maupun Mama tidak menghendaki sesuatu mas kawin. Apa yang kami harapkan? Kata Mama, Annelies telah mendapatkan segala dari calon suaminya. Kalau toh diharuskan ada mas kawin, kata Annelies, ialah sesuatu yang belum kudapatkan dari dia: janji setia selama hidupku. Dan aku telah memberikannya pada akad nikah.


 “Di jaman dulu,” Bunda memulai seperti semasa aku kecil dulu,”negeri-negeri akan berperang habis-habisan untuk mendapatkan putri seperti menantuku, mbedah praja mboyong putri.”


“Nah sekarang duduk kau di lantai. Tundukkan kepalamu…” pada kesempatan ini tahulah aku apa yang akan menyusul: wejangan sebelum pesta perkawinan. Tak bisa lain. Nah, wejangan itu akan segera di mulai.” Kau keturunan darah para satria Jawa… pendiri dan  pemunah kerajaan-kerajaan… Kau sendiri berdarah ksatria. Kau satria… Apa syarat-syarat satria Jawa?”

“Sahaya tidak tahu,Bunda.”

“Husy, Kau yang terlalu percaya pada segala yang serba Belanda. Lima syarat yang ada pada satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga. Bisa mengingat?”

“Tentu saja, Bunda, bisa.”

“Kau tahu artinya?”

“Tahu, Bunda.”

“Dan kau tahu lambang-lambang apa itu?”

“Tidak, Bunda.”

“Anak tak tahu diasal, kau. Dengarkan, dan sampaikan kelak pada anak-anakmu…”

“Sahaya, Bunda.”

“Pertama wisma, Gus, rumah. Tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah, Gus, tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, Gus, dia tempat kepercayaan sesama. Pada yang meninggali. Kau sudah bosan?”

“Sahaya mendengarkan.”

Ia tarik kupingku:

“Kau yang tak pernah, dengarkan orangtua…”

“Sahaya dengarkan, Bunda, sungguh.”

“Kedua wanita, Gus, tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti itu juga kau harus pandang ibumu yang sudah tua ini, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti harus kau persiapkan.”

”Sahaya, Bunda.”

“Orang Belanda tak tahu semua ini, Gus. Tapi kau harus tahu, karena kau Jawa.”

“Sahaya, Bunda, mereka tak tahu semua itu.”

“Ketiga turangga, Gus, kuda itu, dia alat yang dapat membawa kau kemana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan kebisaan, keahlian, dan akhirnya, kemajuan. Tanpa turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.”

Aku mengangguk-angguk menyetujui, mengerti itu juga kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman berabad. Hanya aku tak tahu siapa punya kebijaksanaan itu? Nenek moyang atau Bunda pribadi?

“Keempat kukila, burung itu, lambing keadilan, kelangenan, segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat. Dan kelima curiga, keris itu, Gus, lambing kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan… Nah, kau lulusan H.B.S., kan yang begitu tak pernah diajarkan gurumu? Orang-orang Belanda itu? Nah sekarang kau sudah tahu semua itu sebagai satria. Kalau belum ada salah satu dari yang lima itu adakanlah. Jangan pungkiri yang lima itu. Setiap daripadanya adalah tanda-tandamu sendiri. Kau harus dengarkan leluhurmu. Kalau yang lain-lain tak dapat kau patuhi, yang lima itu sajalah genapi dengan baik. Kau dengar, Gus?”


Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai pada malu tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah-laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah-laku seluruh dunia.
Tetapi manusia tetap yang dulu juga dengan persoalannya. Terutama dalam perkara cinta.


     Rasanya aku menjadi pingsan membacai surat-surat resmi dengan bahasa yang dipergunakan begitu aneh. Sedikit dari isinya dapat kupahami benar: tak mengandung perasaan manusia-menganggap manusia-manusia hanya sebagai inventaris.


     Ya, Nak, Nyo, memang kita harus melawan. Kita takkan malu bila kalah. Kita harus tahu mengapa. Begini, Nak, Nyo, kita, Pribumi seluruhnya, tak bisa menyewa advokat. Ada uang pun belum tentu bisa. Lebih banyak lagi karena tak ada keberanian. Lebih umum lagi karena tidak pernah belajar sesuatu. Sepanjang hidupnya Pribumi ini menderitakan apa yang kita deritakan sekarang ini. Tak ada suara, Nak, Nyo, membisu seperti batu-batu kali dan gunung, biarpun dibelah-belah jadi apa saja. Betapa akan ramainya kalau semua mereka bicara seperti kita. Sampai-sampai langit pun mungkin akan roboh kebisingan.”


“Ceritai aku tentang negeri Belanda menurut cerita Multatuli dulu,” tiba-tiba ia meminta.

“Adalah sebuah negeri di tepi Laut Utara sana…” aku mulai sekenanya, “tanahnya rendah maka dinamai Negeri Tanah Rendah, Nederland, atau Holland.”

     Sampai di sini aku tak mendapatkan sambungannya. Matanya yang mengimpi itu, tetap kuyu, begitu aneh mengawasi aku, seperti aku ini kadal jenis baru berbuntut biru yang baru dilihatnya dalam hidupnya.


“Karena tanahnya rendah orang bosan selalu memperbaiki tanggulnya, maka jadi kebiasaan mereka meninggalkan negerinya, mengembara, Ann, untuk mengagumi negeri-negeri lain yang tinggi bergunung-gunung. Kemudian menguasainya tentu. Di negeri-negeri tinggi itu penduduknya mereka bikin rendah, tak boleh sedikit pun mendekati ketinggian tubuh mereka.”




Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1


     Secara keseluruhan, karya Bumi Manusia gw rekomendasikan betul untuk kalian yang ingin mengalami langsung cerita tentang awal kebangkitan nasional yang kompleks dengan lika-liku drama yang tersaji di dalam cerita. Karena Tetralogi Buru tidak berhenti hanya di Bumi Manusia saja, kedepannya gw bakal posting lagi kelanjutan bagian roman hingga tuntas sampai ke bagian terakhir yaitu Rumah Kaca. Baiklah sekian dulu artikel dari gw, yang mau beli novelnya silahkan langsung caoo saja ke toko buku, pokoknya baca dulu , karena imajinasi tak terbendung durasi pita film, uwekekeke. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.



Bumi Manusia - Tetralogi Buru #1


Advertisement