-->

Review Buku: Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2

- 1/30/2020
 
Review Buku: Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2

     Setelah tuntas membaca Novel Bumi Manusia, jelas gw ingin melanjutkan perjalanan cerita di bagian kedua yaitu Anak Semua Bangsa. Di roman bagian kedua ini jelas terpapar cerita tentang peningkatan kapasitas dari tokoh utama. Mulai dari menjalankan bisnis, urusan hukum, hingga menjadi inspirasinya untuk menulis yang sebelum beranjak harus melewati fase kritis mengenai kelanjutan hubungannya dengan Annelies, apalagi mendapati perlakuan Robert Suurhoof lewat surat yang ditulisnya terhadap Annelies, yang jelas-jelas sudah dipersunting Minke. Baik kisah Minke ataupun tokoh yang lain seperti Surati, Panji Darman, dan Trunodongso, terpampang bahwa banyak sekali manusia yang kuat dan tangguh yang ketangguhannya justru diperbaja oleh penderitaan pada masa itu. Selain itu banyak juga peristiwa epic yang mrojol selaning garu, atau keluar dari kemestian yang seharusnya dari yang tersaji dalam cerita.

  • Sinopsis.
Review Buku: Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2
Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2
     Tetralogi ini merupakan roman empat serial yang mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasional bernama Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula. Hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda. Mungkin ada yang berpendapat bahwa novel tak lebih hanya bangunan khayal penulisnya. Akan tetapi roman ini disandarkan penulisnya lewat sebuah penelusuran dokumen pergerakan awal abad 20 yang kukuh dan ketat. Roman bagian kedua, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa.


     Dalam Anak Semua Bangsa, Tokoh utama dihadapkan antar kekaguman pada peradaban Eropa dan kenyataan di lingkungan bangsanya yang kerdil. Kesadaran Tokoh utama tergurah berkat kehadiran seorang aktivis pergerakan Tionghoa dan dari teman-teman Eropa nya yang liberal, juga mertuanya sendiri. Episode Anak Semua Bangsa adalah semacam titik balik perjalanan Minke menelusuri kehidupan masyarakatnya dari titiknya yang paling dekat yang dengan perjalanan itu semangat itu pun terkukuhkan: “Dan bukan hanya Eropa! Jaman modern ini telah menyampaikan padaku buah dada untuk menyusui aku, dari Pribumi sendiri, dari Jepang, Tiongkok, Amerika, India, Arab, dari semua bangsa di muka bumi ini…”

  • Quote Menarik.
Review Buku: Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2
Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2

“Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dirinya kemungkinan tanpa batas.”

“Rupa-rupanya demam mencari hal-hal baru, alat-alat baru, tak membiarkan orang boleh puas dengan keadaannya. Orang keranjingan segala apa yang baru, kesopanan baru, tingkah baru. Baru, baru, baru, baru, yang jauh dari baru dianggap manusia sisa jaman tengah. Baru, baru, baru, sampai orang dipaksa melupakan, pada hakikatnya kehidupan tetap sama, tetap yang kemarin juga. Orang menjadi kekanak-kanakan seperti bocah sekolah, seakan dengan yang baru kehidupan bisa lebih baik daripada yang kemarin, Minke. Yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa. Orang menjadi begitu mudah terlena, bahwa dibalik segala seruan, anjuran, kegilaan tentang yang baru menganga kekuatan gaib yang tak kenyang-kenyang akan mangsa.Kekuatan gaib itu bernama deretan protozoa, angka-angka, yang bernama modal.”


“Kau benar, Minke, wujud dan wajah manusia itu tetap sama, tidak lebih baik daripada di jaman-jaman sebelumnya. Khotbah-khotbah di gereja memperingatkan itu berulang-ulang. Dia tetap tinggal mahkluk yang tak tahu apa sesungguhnya dia kehendaki. Semakin sibuk orang-orang mencari-cari da menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri.” – Miriam de la Croix

“Untuk apa hidup sesungguhnya? Bukan untuk menampung semua yang tidak diperlukan.” –Nyai Ontosoroh.


“Satu pengetahuan dasar yang kuperoleh: mereka adalah orang-orang yang jauh lebih kuat daripadaku, diperbaja oleh penderitaan. Aneh, mengapa golongan manusia sekuat itu dalam penderitaan justru menderita terus.” – Minke.

“Barangkali Tuan belum pernah melihat bagaimana rusa lari melompat-lompat dan meneleng-neleng mengintip pemburunya. Tanduknya yang indah bercabang-cabangtak dapat menyelamatkan kulit dan jiwanya. Memang indah tanduk itu, apalagi kalau dia sedang lari dengan kepala mendongak ke langit. Keindahan yang sia-sia. Tanduk itu membikin dia tak dapat bersembunyi dalam semak, tak dapat lari di dalam hutan. Tanduk, Tuan Minke, hanya karena tanduknya yang indah binatang ini dikutuk untuk selalu hidup di alam terbuka, di padang terbuka, dan terbuka pula terhadap peluru pemburu. Hanya karena tanduknya yang indah!.” –Kommer.

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaanya saja, dia sakit.” – Kommer.

“Kerja, Tuanmuda, tapi tak bisa. Apa harus seperti pohon? Tak kerja apa-apa tapi terus-menerus minghisap bumi?” – Trunodongso.

“Setiap orang harus jadi sumber keuntungan. Dari setiap sentimeter benang yang ditisikkan pada bajunya yang sobek, dari setiap langkah yang diganjurnya dijalanan. Juga di kota-kota Eropa dan Amerika, juga dari setiap air minum yang diteguknya. Kelak mungkin dari setiap sentimeter kubik hawa yang dipernafaskan orang.” – Ter Haar.


“Meniru apa saja yang baik dan bermanfaat justru tanda-tanda kemajuan, bukan suatu nista seperti diejekkan oleh beberapa pendapat kolonial. Semua pribadi dan bangsa memulai dengan meniru sebelum dapat berdiri sendiri. Orang sepatutnya belajar membiasakan diri dengan kenyataan-kenyataan baru. Kenyataan itu tidak menjadi hilang hanya karena orang tidak suka atau karena diejek saban hari. Kan bangsa-bangsa Eropa pun, sebelum semaju sekarang, juga hanya bisa meniru? Bahkan juga meniru yang buruk, seperti merokok dan menghisap pipa dari bangsa Indian? Kan meniru hanya satu babak dalam kehidupan kanak-kanak? Tetapi pada suatu kali kanak-kanak ini akan dewasa juga? Maka orang seyogyanya punya persiapan untuk menghadapi pada suatu kali ini. Jangan orang terkejut, kurang semangat! Bila kenyataan itu tiba-tiba berada terlalu besar di hadapan mata.”

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berfikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang-orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.” – Kommer.


Review Buku: Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2
Anak Semua Bangsa - Tetralogi Buru #2


Advertisement