-->

Review Buku: Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.

- 2/20/2020
Review Buku: Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.

        Artikel kali ini adalah edisi lanjutan ulasan 2 Episode dari roman Tetralogi Buru yang sudah gw tulis yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Setelah periode kegelisahan pada Episode Bumi Manusia dan periode observasi mencari serangkaian spirit untuk melawan kekuatan raksasa Eropa pada Anak Semua Bangsa, maka roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah pengorganisasian perlawanan. Dalam Jejak Langkah terpapar usaha Tokoh utama memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Dengan media koran ini Minke ingin mengembalikan agensi kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik.


     Perpaduan jurnalistik dan organisasi, tak hanya membangkitkan nasionalisme di setiap kantong perlawanan di daerah, tapi juga menusuk para pembesar Belanda tepat di pusatnya. Itu pula modal awal negeri ini untuk bersuara kepada dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri angina selatan ini di bawah genggaman imperialisme Negeri Angin Utara. Lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.


   Mengesampingkan garis besar cerita Jejak Langkah dibelakang, gw juga ingin menyoroti Karakter dan peran tiap-tiap tokoh yang mulai menunjukkan warna aslinya dalam cerita ini. Seperti Ter Haar yang telah membuktikan diri sebagai seorang liberal dengan mengabdi untuk kegiatan kemanusiaan dan tidak kepada pabrik gula. Kesadaran perlawanan juga menyadarkan tokoh utama bahwa profesi bergengsi tidak serta merta cukup untuk menjalani kehidupan. Dan kenyataan itu ditemukan setelah menyadari bahwa ruang geraknya terbatas jika dia menjadi seorang dokter. Untuk gw yang melihat cerita dari sudut pandang sebagai pembaca, dengan posisi kita sebagai observer, tidak sukar untuk kita memberi penilaian sementara tentang gagalnya Minke menyelesaikan Pendidikan menjadi Dokter ternyata terkandung kemungkinan kekuatan yang lebih besar dengan apa yang dialami dalam Jejak Langkah. Gw sendiri sempat terbawa emosi untuk Minke bisa mendapat gelar doktor untuk keperluan perlawanan yang lebih baik, tapi lambat gw membaca dan meneruskan cerita, ternyata kemungkinan untuk melawan selalu ada, dengan alur yang tak diduga-duga sebelumnya.

Review Buku: Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.
Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.




    Kehadiran tokoh Bunda dari tokoh utama juga memberikan angin segar tersendiri dalam setiap scene di dalam cerita. Seperti ketika Bunda menjenguk Minke di bulan ke-7 hidup di Betawi.


   Seorang ibu selalu mengampuni anaknya, biarpun anak itu seperti kau, yang baru pandai membangun kesengsaraan untuk dirinya sendiri. Aku datang terpanggil oleh kesengsaraanmu, Nak. Surat-suratku tak ada yang kau balas selama ini. Orang tak mau menceritakan isi suratkabar lagi padaku. Mereka sudah belajar melupakan kau, darah yang sudah diikat oleh para hakim, katanya. Tapi darah itu darahku sendiri. Pergi ke Surabaya aku dilarang ayahandamu. Aku pergi juga, Nak, tak mengindahkan murkanya. Akulah yang melahirkan kau, bukan orang lain. Alamat-alamat dulu sudah tiada lagi. Sedang alamatmu yang lama tidak bisa memberikan suatu jawaban.

     Meskipun sejak episode Bumi Manusia kita sudah disuguhkan drama antara anak dan orang tua. Tokoh utama tetap pada sifat dan karakter yang kuat terutama sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Seperti dalam scene dirinya mendapati larangan meninggalkan sekolah oleh Tuan Direktur .


  Betul, Tuan Direktur. Biar begitu aturan untuk memuliakan seorang ibu tidak menjadi batal karena adanya Sekolah dokter ini. Aku telah dipaksa untuk memilih antara peraturan sini dengan aturan menghormati seorang ibu. Aku telah memilih yang kedua. Kalau itu dianggap sebagai besar kepala dan tidak kenal aturan, terima kasih banyak. Itu berarti tak ada sesuatu yang mulia dapat kupelajari dari sekolah ini.

   Bergeser kepada bagian asmara, nampaknya Minke ini mempunyai kisah yang tidak semua orang dapat ketegaran dan keikhlasan hati untuk bisa menjalani seperti yang dia jalani. Dipadukan dengan fase sulit organisasi dan jurnalistik yang masih belum menemui titik terang. Sekali lagi, Kisah antara Minke dan Princes masih harus berlanjut di roman bagian ke-4, rumah kaca, yang harus segera gw baca dan gw ketahui. Karena sampai review ini ditulis, gw baru menyelesaikan membaca roman Jejak Langkah ini. 


  • Quote Menarik.
Review Buku: Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.
Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.


Buat apa memikirkan yang sudah lewat? Masalalu tak perlu lagi jadi beban, bila tak sudi jadi pembantu.


Ai Betawi! Kini aku di tengah-tengahmu. Gedung-gedungmu memang besar dan megah, jiwaku lebih besar dan megah lagi. Dahulu sepanjang Ci Liwung berdiri sederetan tak putus-putusnya rumah-rumah mewah, kata orang. Pemandangan memang berwarna-warni. Hatiku lebih berwarna-warni lagi, meriah.


Betapa besar stasiun Gambir ini, seperti satu kampung di bawah satu atap. Apa saja yang diangkuti kereta api di sini? Tentu sama saja dengan keretapi Surabaya sana: kemakmuran dan kebahagiaan dari desa-desa, dieksport. Dan import juga: barang-barang pelupa, kemakmuran dan kebahagiaan yang sudah tergadai. Kau harus tetap ingat pada ciri-ciri kota besar jaman modern ini: dia berdiri atas ceceran lalu-lintas kemakmuran dan kebahagiaan.


Biar begitu makin lama makin terasa, dokter bukan pekerjaan yang tepat untukku. Sudah sejak pelajaran pertama, orang dipaksa takluk pada benda-benda, hidup dan mati, menghafal hukum dan sifatnya, sehingga membikin diri merasa lenyap di antara semua yang dipelajari. Ilmu-ilmu yang diajarkan membikin diri merasa begitu tidak berarti, menenggelamkan kepribadian.


Itu penyakit Eropa. Kau sudah kukatakan, belajar bersyukur, berterimakasih? Aku takkan lupakan cerita-ceritamu itu. Yang pandai ingin lebih pandai yang kaya berusaha lebih kaya. Tak ada berterimakasih dalam hati. Hidup diburu-buru untuk mejadi yang lebih. Kan kau sendiri yang dulu bercerita pada Bunda? Mereka semua orang menderita: keinginan, cita-cita sendiri, jadi raksasa rajadiraja. Masih ingat?


Guru mana yang bilang seperti itu, anakku? Dahulu, nenek moyangmu selalu mengajarkan, tidak ada yang lebih sederhana daripada hidup: lahir, makan-minum, tumbuh, beranak-pinak dan berbuat kebajikan.


Kembali ke Betawi Mei mulai tumbuh sehat. Kepucatannya mulai berkurang. Sebagai istri seorang Pribumi ia tak mendapatkan kesulitan lagi dengan aturan tinggal. Kemudian datang biang penyakit lama: gelisah hidup tergantung jadi tanggungan, juga pada suami sendiri.


Lebih tigapuluh tahun ia telah berpraktek sebagai dokterjawa, ia meneruskan. Belum ada siswa sekarang ini yang berumur empatpuluh, dan usia empatpuluh adalah sebaik-baik usia. Pada umur itu orang mulai menengok-nengok ke belakang dan bertanya pada diri sendiri: apakah telah kau berikan pada kehidupan ini, hei, kau manusia terpelajar? Obat untuk si sakit saja, ataukah juga obat untuk kehidupan yang sakit? Seumur parasiswa tentunya sudah terbayang kemungkinan bakal timbul pertanyaan seperti itu. Sebabnya sederhana. Parasiswa adalah golongan orang terpelajar, golongan beruntung yang mendapat lebih banyak ilmu dan pengetahuan daripada sebangsa selebihnya. Bagi orang inteligen, orang cerdas,  bukan hanya berilmu dan berpengetahuan, tak mungkin terlepas perhatiannya dari masalah-masalah kehidupan, apalagi kehidupan yang vital, memikirkannya, memecahkannya dan menyumbangkan pikirannya. Kehidupan yang vital, katanya selanjutnya: kebahagiaan, kesengsaraan, kesejahteraan, keberuntungan, penderitaan, cinta dan kasih sayang, pengabdian, kebenaran, keadilan, kekuatan … Beberapa tahun mendatang parasiswa akan berpraktek sebagai dokter, bergelimang dalam satu segi kehidupan yang vital: penderitaan. Penderitaan yang sedalam-dalamnya: penderitaan yang berlibat-berpilin dengan kemiskinan, dengan ketidadayaan.


Dunia modern akan sedemikian memperinci kehidupan, percabangan dan perantingan ilmu dan kehidupan akan membikin seorang akan jadi asing satu dari yang lain. Orang bertemu hanya karena urusan, atau hanya karena kebetulan. Orang tak lagi dapat mudah mengenal atau mengetahui, yang dirawatnya orang mulia hati atau tidak. Tetapi kita dapat menduga pasien-pasien kita tidak atau tidak begitu mulia. Kemuliaan seseorang datang hanya sebagai hasil Pendidikan yang baik yang menjadi dasar perbuatan baik dan mulia. Bangsa-bangsa di Hindia belum lagi mendidik putra dan putrinya. Bangsa kita masih hidup dalam alam jahiliah, manusiaanya adalah juga jahil, yang tak mampu membangunkan sesuatu kemuliaan untuk dirinya sendiri, apalagi untuk bangsanya.


Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita-cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji?


Apa? Siapa tidak percaya kau memulai dengan hati bersih dan kemauan baik? Kau kira itu saja cukup? Hati bersih dan kemauan baik, dan kemampuan melaksanakannya, justru yang dicari para bandit. Hati bersih dan kemauan baik, dan kemampuan melaksanakannya belum mencukupi, Nyo, Nak. Belum, masih jauh. Dalam kenyataannya sampai sekarang ini apa kurang cukup banyak orang menggunakan agama untuk menindas? Waspadalah.


Maksudmu mau menirukan aku, bekerja dan bekerja saja, tak henti-hentinya? Kau lihat aku berbahagia dalam pekerjaanku? Kau keliru, Nak. Kau tak lihat keseluruhan. Biar begitu, Nak, tanpa kawan-hidup yang setiap waktu ada di dekatnya, hidup terasa semakin sunyi.


Menurut pendapatku, Tuan, salah itu sudah salah sejak dalam fikiran. Kalau keliru agak lain. Di dalam pikiran benar, dalam pengerjaan tidak benar, itu keliru. Kan begitu, Tuan?


Jangan kau jadi kedasih yang tidak bersahut tidak bersambut. Jangan jadi dalang tiada cerita. Tanpa anakwayang pun dalang masih bisa, tapi tanpa cerita … anakwayang pun dia sendiri tidak.


Bagaimana pun apa yang dimaksud Syarikat benar, bukan hanya benar, perlu dikembangkan, hanya saja: siapa golongan terpelajar dan maju itu sesungguhnya? Bukan kaum priyayi. Di Hindia ini, Tuan, sejauh kuperhatikan, begitu seorang terpelajar mendapat jabatan dalam dinas Gubermen, dia berhenti sebagai terpelajar. Kontan dia ditelan oleh mentalis umum priyayi: beku, rakus, gila hormat dan korup. Nampaknya yang harus dipersatukan memang bukan kaum priyayi, mungkin justru orang-orang yang semasekali tidak punya jabatan negeri.




Boleh jadi dia banyak tahu yang nenek-moyangnya tidak tahu, tapi dia tidak tahu sesuatu tentang yang diketahui nenek moyangnya. Dia lebih tahu adat Belanda daripada adat ayahnya.



Adapun hubungan manusia dengan Tuhan, hanya Tuhan saja yang tahu, Tuhan dan manusia yang berkepentingan. Orang lain tidak akan tahu, sekalipun dia ayah atau ibunya sendiri. Yang nampaknya bersembahyang belum tentu ada hubungan dengan Tuhan atau sebaliknya, yang nampaknya tidak bersembahyang mungkin justru mempunyai hubungan mesra denganNya. Itulah guna kisah-kisah itu diajarkan, dipergunakan jadi pegangan bila keadaannya berpulang pada diri kita sendiri.   

Pedagang orang paling giat di antara umat manusia ini, Tuan. Dia orang paling pintar. Orang menamainya juga saudagar, orang dengan seribu akal. Hanya orang bodoh bercita-cita jadi pegawai, karena memang akalnya mati. Lihat saja diriku ini. Jadi pegawai, kerjanya hanya disuruh-suruh seperti budak. Bukan kebetulan Nabi pada mulanya juga pedagang. Pedagang mempunyai pengetahuan luas tentang ikhwal dan kebutuhan hidup, usaha dan hubungannya. Perdagangan membikin orang terbebas dari pangkat-pangkat, tak membeda-bedakan sesame manusia, apakah dia pembesar atau bawahan, bahkan budak pun. Pedagang berpikiran cepat. Mereka menghidupkan yang beku dan menggiatkan yang lumpuh.


Jangan kehilangan keseimbangan! Berseru-seru aku pada diri sendiri, memperingatkan. Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik kebesaran adalah kehancuran. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah, jalan kearah kelestarian.

Dan jadilah aku seorang guru, bahwa bukan darah, bukan keturunan, yang menentukan sukses tidaknya seseorang dalam hidupnya, tetapi: Pendidikan lingkungan dan keuletan. Bahwa sukses bukan hadiah Cuma-Cuma dari para dewa, dia hanya akibat kerja keras dan belajar. Pandangan salah tentang keturunan dan darah sudah begitu berakar dalam literature dan kehidupan Jawa. Mengibakan. Ramayana dan mahabbarata tak meninggalkan pegangan bagaimana memasuki dunia modern. Epos-epos besar itu kini telah jadi beban penghambat. Ajaran berabad itu sudah kehilangan hubungan dengan kehidupan. Tak pernah tahu bagaimana padi ditanam, tiang rumah didirikan, tak pernah mengerti bagaimana orang mesti menjual barang bikinannya. Hanya berkelahi yang diajarkan, dan sekodi wejangan agar jadi kekasih pada dewata, menjadi semakin bukan manusia.


Dari luar terdengar oleh ku Sandiman memberi perintah pada pendekar-pendekar Banten untuk tidak mengijinkan siapa saja memasuki pelataran, kecuali dengan ijin Prinses. Barangsiapa memaksa supaya di hajar sampai mengerti.


Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.
Jejak Langkah – Tetralogi Buru #3.



Advertisement