Quarter-Life Crisis: Fase Krusial Menuju Usia Dewasa.

- 7/11/2020
Quarter-Life Crisis: Fase Krusial Menuju Usia Dewasa.



     Ada yang beranggapan, usia 20 sampai awal 30 an adalah waktu paling indah untuk dijalani dalam hidup seseorang. Masuk akal untuk dipikir, karena usia tersebut adalah usia dimana kebugaran tubuh sedang dalam puncaknya, belum punya banyak tanggung jawab, dan punya banyak sekali peluang untuk urusan karir juga pengembangan diri. Namun, bukan berarti kehidupan di usia tersebut tidak bakal bersinggungan dengan yang namanya stress di kemudian hari. Faktanya, banyak orang di fase ini mengalami suatu ketidakpastian akan hidup yang dijalani dan dirundung kecemasan akan tujuan hidup, karir, serta relasi dan asmara. Orang-orang menyebut fenomena ini dengan nama Quarter-Life Crisis.




     

  • Apa itu Quarter-Life Crisis?



Quarter-Life Crisis: Fase Krusial Menuju Usia Dewasa.

     Quarter-Life Crisis adalah suatu periode dimana seseorang mulai merasakan ketidakpastian dalam hidup yang dijalaninya, merasa terjebak dalam lingkaran kebiasaan tidak produktif, kurang motivasi, dan mulai mempertanyakan tujuan hidupnya. Hal ini kerap terjadi bagi mereka yang memasuki usia 20 hingga awal 30 an. Dalam fase ini, seseorang benar-benar merasakan adanya kebuntuan akan inspirasi baik yang mana berhubungan dengan urusan karir dan pekerjaan, di saat yang sama teman-temannya sudah menjalani jenjang karir ideal yang menjanjikan, ataupun merasa gusar ketika urusan asmara dan relasi pribadi masih berantakan disaat rekan yang lain sudah menikah dan mempunyai buah hati.

     Menurut penelitian dari Harvard Business Review, mereka yang mengalami Quarter-Life Crisis akan melewati 4 fase:

1. Pertama, perasaan seakan-akan terjebak dalam komitmen datang menghantui. Entah itu dalam pekerjaan, atau bahkan hubungan yang dirasa kurang pas atau disesali.
2. Kedua, kesepian yang mendalam. Biasanya fase kedua yang datang adalah munculnya perasaan bahwa tidak ada orang yang paham betul apa yang anda butuhkan, sehingga anda merasa kesepian dan sendiri di dunia ini.
3. Ketiga, muncul kesadaran dimana selama ini kita hanya berpura-pura menjadi orang dewasa, tanpa merasakan seutuhnya bahwa sebenarnya memang sudah dewasa. Biasanya, rasa kesepian akan berlanjut ke frustasi ringan dimana ada perasaan kehilangan jati diri dan arah.
4. Fase keempat, pada akhirnya muncul kesadaran tentang apa yang kita inginkan dan butuhkan. Beberapa memilih untuk mencari pekerjaan di bidang yang baru, mencari pasangan baru, atau bahkan akhirnya bisa menerima versi dewasa dari diri mereka. Biasanya, setelah fase ini terlewatkan kebanyakan akan merasa lega dan akhirnya mulai melihat tujuan atau arti baru dalam hidup mereka.

     Dari berbagai literatur yang penulis baca, Quarter-Life Crisis bisa muncul dari beberapa faktor utama seperti, kurang puas terhadap situasi karir dan finansial pribadi, lingkungan sosial seperti kapan nikah? kapan dapat pekerjaan? kapan beli rumah?, dan yang paling mencolok tentu saja sosial media, kita ambil contoh platform Instagram yang secara subyektif rasanya hanya menampilkan yang indah-indah saja sehingga menjadikan diri merasa kurang dan kurang.

  • Solusi Untuk Quarter-Life Crisis


     Cobalah jujur dengan diri sendiri dan keadaan, apakah kita benar-benar merdeka atas setiap keputusan yang kita ambil? atau hanya sekedar gambling tanpa perhitungan resiko dan malah mengikuti ekspetasi orang? Merasa aneh dengan keadaan diri sendiri di fase ini adalah hal yang wajar, tapi jika kemudian terus berlarut barulah menjadi suatu hal yang tak wajar. Nyatanya, rasa aneh terhadap keadaan diri sendiri hanya bagian dari ketidaksesuaian harapan dan realita yang mengakibatkan stress berkepanjangan. Hemat penulis, solusi ideal untuk QLC adalah merekonstruksi ulang sikap dan sudut pandang kita terhadap berbagai keadaan yang kita jalani saat ini. Untuk poin sikap, memanfaatkan waktu dan kebugaran di usia rentan QLC ini dengan kerja keras dan kerja cerdas adalah satu sikap yang patut untuk dipertimbangkan. 

Quarter-Life Crisis: Fase Krusial Menuju Usia Dewasa.

     Menyinggung salah satu pemicu QLC yaitu tekanan lingkungan seperti pertanyaan ampas berupa kapan nikah? Satu yang patut untuk diperhatikan bahwasanya menikah bukanlah akhir pencapaian, urusan nikah ini bukan seperti perlombaan yang dengan segera harus kita dapatkan, bukan. Tak perlu kita iri dan tiba-tiba merasa insecure dikala rekan yang lain sudah punya sesuatu hal yang melingkari jari manisnya, menikahlah ketika kita sudah benar-benar siap secara lahir dan batin. Nggak sedikit orang cepat menikah, dan kehidupan pernikahannya tergolong prematur dan akhirnya cerai muda, barangkali ini jadi pemicu meningkatnya angka janda muda di tanah air, uwekekeke.

     Back to topic!, sikap kerja keras dan kerja cerdas yang penulis maksud lebih menitikberaktan kepada kerja keras untuk keperluan peningkatan kualitas diri. Update kualitas dirimu! Seperti yang penulis katakan tadi, menikahlah ketika kita benar-benar sudah siap, begitu juga halnya dengan karir dan gaji yang menjadi problem kebanyakan orang, di umur rentan QLC ini (20~30) rasanya ada yang lebih patut untuk diutamakan ketimbang besarnya gaji, yaitu Skill dan Kesempatan, tentunya setelah kita sudah tahu dan paham betul dengan minat/passion pribadi. Utamakanlah skill, pengetahuan, juga spesialisasi terhadap pekerjaan yang digeluti. Kemungkinan terbaik yang bisa dilihat jika kita mengutamakan 3 poin tadi adalah adalah kita dapat mengetahui role and responsibility pekerjaan kita dengan tepat nantinya, dikatakan tepat disini karena kita bekerja sesuai dengan skill/passion yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Dengan role and responsibility yang tepat, sedikit banyak kita bisa memastikan arah untuk karir kita kedepan. Sebagai contoh, apabila kamu punya gaji yang lebih rendah tapi skill yang lebih baik dibanding teman-teman lain yang fokusnya mengejar gaji, di umur 30 an kamu akan mulai memetik hasilnya; dimana teman-teman yang hanya mengejar gaji secara umum punya skill yang kurang spesifik, akan terkejar secara gaji dan kesempatan. Carilah tempat yg tepat untuk mengejar skill dan good track history. Utamakan daya cipta karyamu!, dan dengan sendirinya gaji akan mengikuti.

Quarter-Life Crisis: Fase Krusial Menuju Usia Dewasa.

     Tambahan mengenai Skill, mulai melakukan peningkatan skill bahasa , dalam kasus ini adalah Bahasa Inggris, nampaknya bukan ide yang buruk untuk dijalani, tuntutan untuk mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi penting mengingat banyaknya media pembelajaran yang tersedia dalam bahasa Inggris yang sayang untuk dilewatkan. Selain Skill Bahasa, Ilmu Komputer juga patut untuk dipertimbangkan, yang nantinya bakal mengerucut ke dunia digital, juga Software Desain kalau mengarah ke Design. Mengingat banyaknya manfaat yang bisa dirasakan dari teknologi, semakin mahir kita tentang soft skill ini maka semakin banyak skill yang bisa kita tuliskan di CV nantinya, dan bukan hanya kemampuan Microsoft Office saja, uwekekeke.

     Setelah point Sikap yang musti diambil sekarang kita beralih ke Sudut Pandang atau Point of View kita dalam fenomena Quarter-Life Crisis ini, dengan menemukan pijakan yang tepat, kita akan mempunyai perspektif baru yang lebih fresh dan mampu untuk menentukan tujuan hidup dengan lebih bijak. Bersamaan dengan hal itu, tentukanlah ideologi yang kuat soal hidup sederhana dan efektif. Semua orang punya zona waktunya sendiri sendiri. Harus tetap percaya diri dengan apa yang kalian pegang dan jalankan selama itu tidak merugikan orang lain, tidak mendzolimi diri sendiri, dan memberikan manfaat buat orang lain. Bahkan orang yang suci sekalipun pernah dilempar kotoran, jadi jangan harap nggak ada yang akan melempar kotoran ke muka kita walaupun yang kita jalankan benar dan baik. Oya satu lagi, di jaman yang notabene penuh teknologi yang kita benar-benar dimudahkan karenanya, yang berarti satu hal, itu bisa menyulitkan kita untuk menentukan pilihan. Yang terpenting yang musti diingat adalah, kita punya life purpose, goals!, yang dengannya semoga semua pilihan-pilihan yang bertebaran itu nggak membuat bias tujuan kita dan kita tetap terarah dalam hidup. 

   Sebagai penutup, penulis tekankan satu hal, semua orang pasti punya pergumulannya masing-masing, dengan berbekal selalu bersikap positif dan selalu bersyukur, niscaya kita bakal dimudahkan untuk menghadapi masalah tersebut. So, jangan lupa bahagia ya para pejuang Quarter-Life Crisis!

Advertisement